Naiknya Yield UST 10Y AS Terus Tekan Pasar Finansial

4 Okt 2023

Updates

Naiknya Yield UST 10Y AS Terus Tekan Pasar Finansial

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara harian mencatatkan pelemhan sebesar -0,30% dan ditutup di level 6,940 pada hari Selasa (03/10). Pelemahan IHSG ditekan oleh tiga sektor yang mengalami koreksi terbesar, yakni sektor energi -1,91%, lalu sektor industrial -1,34% serta sektor finansial -0,99%. Saat ini IHSG ditradingkan kembali dengan valuasi menarik, Price Earning Ratio (PER) sebesar 13,58x.


Walau IHSG koreksi, namun Investor asing kembali membukukan pembelian bersih (Net Buy) sebesar Rp 170 miliar. Namun secara Year to Date (YTD) transaksi investor asing masih tercatat dengan total penjualan bersih (Net Sell) senilai Rp 4,75 triliun.


Pergerakan imbal hasil obligasi Indonesia 10yr, saat ini berada di level 7.150%, tertinggi sejak awal tahun 2023, dan berpotensi mendekat ke 7.507% yang dimana level ini pernah dicapai pada (Jan-23). Kenaikan Yield obligasi terutama disebabkan oleh ekspketasi Inflasi yang masih akan tinggi secara global dan arah suku bunga The Fed juga akan masih hawkish. 


Wall Street ditutup kompakmelemah pada perdagangan dihari Selasa (03/10). Dimana indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) lanjutkan pelemahan sebesar -1,29% ke level 33,002. Indeks S&P 500 koresi -1,37% ke level 4,229 dan indeks Nasdaq Composite juga terseret cukup dalam sebesar -1,87% ke level 13,059.


Pelaku pasar melihat bahwa dengan masih bekum menjinaknya inflasi membuat prospek perpanjangan kebijakan moneter ketat yang mendorong imbal hasil Treasury ke level tertinggi dalam 16 tahun terakhir. Sementara para investor menunggu data ketenagakerjaan penting untuk mengukur prospek suku bunga Amerika Serikat (AS). Harapan pasar pada bulan ini adalah The Fed bersikap lebih Dovish dalam menyikapi kebijakan moneter yang akan terapkan hinggak akhir tahun.


Kinerja reksadana secara harian pada tanggal 03 Oktober 2023 mayoritas alami pelemahan. Seperti jenis reksadana saham yang mengalami koreksi sebesar -0,39%, diikuti reksadana campuran yang juga ikut tertekan -0,20%, sementara itu reksadana pasar uang terapresiasi sebesar +0,01% dan terakhir reksadana pendapatan masih terus di zona bearish, melemah sebesar -0,21%. 


Kinerja reksadana pada Selasa (03/10) banyak dipengaruhi oleh faktor global, dimana terus naiknya imbal hasil Treasury Amerika Serikat (AS) yang sudah mencapai level tertingginya sejak tahun 2007 membuat kekhawatiran para investor meningkat bahwa suku bunga yang lebih tinggi akan berefek pada tertekannya pasar finansial dan pasar perumahan serta bisa membawa perekonomian ke dalam resesi. Disisi lain, para analis menilai bahwa secara histori, penurunan pasar pada bulan September dan Oktober terbilang normal terjadi. Karena kekhawatiran inestor yang sedang berlangsung mengenai suku bunga yang lebih tinggi dapat berarti bahwa akan lebih banyak penurunan yang akan terjadi pada saham.


#InvesNowCuanLater  #BigDreamStartNow

floating-whatsapp

Siap untuk menumbuhkan
uang di masa depan?

Perjalanan Investasimu Dimulai Sekarang

logo
ojk
ojk

Newsletter

Segarkan wawasan investasi Anda setiap harinya
dengan berita-berita financial dari newsletter kami.

© 2024 PT Invesnow Principal Optima