Indeks Dollar AS (DXY) Menguat, Kurs Rupiah Terus Melemah

10 Okt 2023

Updates

Indeks Dollar AS (DXY) Menguat, Kurs Rupiah Terus Melemah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara harian mencatatkan penguatan tipis sebesar +0,04% dan ditutup di level 6,891 pada hari Senin (09/10). Penguatan IHSG didorong oleh tiga sektor yang mengalami lonjakan terbesar, yakni sektor energi +2,88%, lalu sektor infrastruktur +2,46% serta sektor material dasar +1,04%. Saat ini IHSG ditradingkan kembali dengan valuasi menarik, Price Earning Ratio (PER) sebesar 13,68x. Sejalan dengan penguatan IHSG, Investor asing membukukan pembelian bersih (Net Buy) sebesar Rp 85 miliar secara harian. Namun secara Year to Date (YTD) transaksi investor asing masih tercatat dengan total penjualan bersih (Net Sell) senilai Rp 5,16 triliun. Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan, penurunan posisi cadangan devisa sebesar US$134,9 miliar dari US$ 137,1 miliar dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai langkah antisipasi dampak rambatan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Wall Street ditutup kompak menguat pada perdagangan dihari Senin (09/10). Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) menguat sebesar +0,59% ke level 33,604. Indeks S&P 500 juga melaju +0,63% ke level 4,335 dan indeks Nasdaq Composite juga naik +0,39% ke level 13,484. Kesenjangan perdagangan (Balance of Trade) Amerika Serikat menyempit menjadi $58,3 miliar pada Agustus 2023, terendah sejak September 2020, dan di bawah perkiraan defisit $62,3 miliar. Ekspor naik 1,6% ke level tertinggi dalam lima bulan. Kinerja reksadana secara harian masih cenderung terbatas. Seperti jenis reksadana saham yang masih mengalami koreksi sebesar -0,11%, diikuti reksadana campuran yang juga masih finish di zona merah sebanyak -0,09%, sementara itu reksadana pasar uang terapresiasi sebesar +0,01% dan terakhir reksadana bergerak sideways alias tidak kemana - mana di 0,00%. Kinerja reksadana secara harian pada (09/10) dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu naiknnya IHSG yang didorong oleh sektor energi dimana pelaku pasar beranggapan efek dari perang antara Hamas Palestina dan Israel akan berdampak pada komoditas seperti minyak dan gas. Namun karena tekanan dari sektor kesehatan dan consumer nonsiklikal, kinerja reksadana campuran dan saham belum mampu mencatatkan kinerja positif. Disisi lain, walau penurunan nilai cadangan devisa digunakan sebagai stabilisasi nilai tukar Rupiah, akan tetapi penguatan indeks Dollar (DXY) masih belum mampu dibendung IDR. Ditambah aksi net sell oleh investor di SBN, membuat kinerja reksadana pendapatan tetap kedepan masih terbatas. #InvesNowCuanLater #BigDreamStartNow

floating-whatsapp

Siap untuk menumbuhkan
uang di masa depan?

Perjalanan Investasimu Dimulai Sekarang

logo
ojk
ojk

Newsletter

Segarkan wawasan investasi Anda setiap harinya
dengan berita-berita financial dari newsletter kami.

© 2024 PT Invesnow Principal Optima