Neraca Dagang Surplus Lagi, Rupiah Masih Malas, Bursa Asia Tersenyum

16 Nov 2022

Updates

Neraca Dagang Surplus Lagi, Rupiah Masih Malas, Bursa Asia Tersenyum

Domestik

Rilis data menujukan neraca perdagangan Oktober masih surplus sebesar US$5.67 miliar dan lebih tinggi dari data September 2022 sebesar US$4.97 miliar namun pada kenyataannya kinerja ekspor mulai mengalami perlambatan, khususnya untuk sektorsektor yang memiliki kontribusi terbesar seperti industri pengolahan serta tambang dan lainnya.

Surplusnya neraca dagang tidak membuat mata uang RI menguat. Di pasar spot, hingga pukul 14.53 WIB, Kamis, 15 November 2022, kurs rupiah bertengger di level Rp 15.543 per dolar AS. Level ini melemah 0.15 persen dari penutupan perdagangan hari sebelumnya yang berada di level Rp 15.519. Penyebabnya adalah di portofolio investasi SBN masih net outflow dan lebih besar walauoun di pasar saham masih net inflow. 

Beberapa hari ini pergerakan IHSG tidak bisa ditebak. Kemarin berakhir menguat tipis 0.23% dan ditutup di 7.035,5 pada perdagangan Selasa (15/11/2022). Presiden Jokowi dan Presiden AS Joe Biden bersepakat menyediakan pendanaan 20 Miliar USD untuk membantu Indonesia mempensiunkan batu bara.

Internasional

Jerman saat ini sedang mempersiapkan untuk pengiriman uang tunai darurat jika terjadi pemadaman listrik untuk menjaga perekonomian tetap berjalan. Hal ini terjadi saat negara itu diliputi ancaman krisis energi pascaperang Rusia-Ukraina. Ditambah lagi Rusia tadinya adalah pemasok utama bahan bakar untuk Jerman. Namun Rusia bertindak mengurangi pasokan dengan berbagai alasan. Berkaca dari pengalaman ini Jerman saat ini lebih antisipatif dan membuat kebijakan yang inovatif demi kwberlangsungan ekonomi. 

Mayoritas bursa Asia-Pasifik ditutup cerah pada perdagangan Selasa (15/11/2022), di mana investor mengevaluasi pertemuan sejenak antara Presiden Amerika Serikat (AS) dengan Presiden China, sebelum mereka bertemu di KTT G20 Bali Indonesia.

Ekonomi Jepang kembali melambat akibat biaya impor yang tinggi dan konsumsi swasta yang lemah. Berakhirnya pembatasan Covid-19 tak membantu banyak pertumbuhan. Produk Domestik Bruto (PDB) periode kuartal III-2022 dilaporkan menyusut 0.3%.

China merilis data produksi industri China tumbuh 5% pada Oktober lalu, melambat dari posisi September lalu yang tumbuh 6.3%.

Download selengkapnya Daily Update dan Kinerja Reksa Dana di sini

floating-whatsapp

Siap untuk menumbuhkan
uang di masa depan?

Perjalanan Investasimu Dimulai Sekarang

logo
ojk
ojk

Newsletter

Segarkan wawasan investasi Anda setiap harinya
dengan berita-berita financial dari newsletter kami.

© 2024 PT Invesnow Principal Optima