Inflasi Oktober 2023 Terjaga. The Fed Dovish di Jangka Pendek

2 Nov 2023

Updates

Inflasi Oktober 2023 Terjaga. The Fed Dovish di Jangka Pendek

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara harian mencatatkan pelemahan cukup dalam sebesar -1,63% dan ditutup di level 6,642 pada hari Rabu (01/11). Pelemahan IHSG didorong oleh tiga sektor yang mengalami tekanan terbesar secara mingguan, yakni sektor teknologi -3,53%, lalu sektor dasar -2,20% serta sektor energi -1,59%. Saat ini IHSG ditradingkan kembali dengan valuasi menarik, Price Earning Ratio (PER) sebesar 12,48x serta Price Book Value (PBV) sebesar 2,39x.


Sejalan dengan pelemahan IHSG, outflow dari investor asing masih terjadi, dimana foreign investor membukukan penjualan bersih bersih (Net Sell) sebesar Rp 1,09 triliun pada hari Rabu (01/11). Sehingga secara Year to Date (YTD) transaksi investor asing masih tercatat dengan total penjualan bersih (Net Sell) senilai Rp 14,41 triliun.


Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan Oktober 2023 terjadi inflasi sebesar 0,17% secara bulan ke bulan (month to month/mtm). Sedangkan secara tahunan (year on year/yoy) pada Oktober 2023 mencapai 2,56%. Sementara secara inflasi tahun kalender (Oktober 2023 terhadap Desember 2022) sebesar 1,80%. Dengan kondisi tersebut maka tingkat inflasi bulanan Oktober 2023, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, namun lebih tinggi dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.


Wall Street kembali ditutup kompak menguat perdagangan hari Rabu (01/11). Dimana indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) menguat sebesar +0,67% ke level 33,274. Indeks S&P 500 juga ikut rally +1,05% ke level 4,237 dan indeks Nasdaq Composite juga bertambah sebesar +1,64% ke level 13,061.


The Fed kembali mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 5,25% -5,50% pada Rabu (1/11/2023). Di tengah pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja serta inflasi yang masih jauh di atas target bank sentral Amerika Serikat (AS) tersebut. Dengan demikian, ini adalah kedua kalinya Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan. Setelah serangkaian sebelas kali kenaikan suku bunga, termasuk empat kali kenaikan suku bunga pada tahun 2023.


Kinerja reksadana secara harian ditutup bervariasi. Seperti jenis reksadana saham yang mengalami pelemahan sebesar -1,81%, diikuti reksadana campuran yang terkoreksi -1,18%, sementara itu reksadana pasar uang diapresiasi sebesar +0,01% dan terakhir reksadana pendapatan tetap yang lanjutkan penguatan sebesar +0,27%. 


Pergerakan dari kinerja Reksadana hari Rabu (01/10) dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tekanan dari investor asing yang terus melakukan aksi jual bersih terus menekan IHSG yag berefek pada kinerja reksadana saham dan campuran. Walau kinerja emiten terbilang cukup bagus namun tekanan dari faktor global belum bisa membuat pasar saham recovery. Disisi lain, keputusan The Fed untuk mepertahankan tingkat suku bunga acuan membuat yield UST10Y terkoreksi cukup dalam (-1,63%). Hal ini berdampak positif terhadap bond market dimana kinerja reksadana pendapatan tetap mencatatkan kinerja positif selama tiga hari beruntun pada pekan ini.


#InvesNowCuanLater  #BigDreamStartNow

floating-whatsapp

Siap untuk menumbuhkan
uang di masa depan?

Perjalanan Investasimu Dimulai Sekarang

logo
ojk
ojk

Newsletter

Segarkan wawasan investasi Anda setiap harinya
dengan berita-berita financial dari newsletter kami.

© 2024 PT Invesnow Principal Optima