IHSG dan Wall Street Koreksi. Kinerja RDC dan RDS Masih Tertekan

27 Okt 2023

Updates

IHSG dan Wall Street Koreksi. Kinerja RDC dan RDS Masih Tertekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara harian mencatatkan pelemahan yang cukup dalam sebesar -1,75% dan ditutup di level 6,714 pada hari Kamis (26/10). Pelemahan IHSG didorong oleh tiga sektor yang mengalami tekanan terbesar, yakni sektor transportasi dan logistik -1,89%, lalu sektor teknologi -1,63% serta sektor finansial -1,58%. Saat ini IHSG ditradingkan kembali dengan valuasi menarik, Price Earning Ratio (PER) sebesar 13,24x.


Sejalan dengan pelemahan IHSG, outflow dari investor asing masih terjadi, dimana foreign investor membukukan penjualan bersih bersih (Net Sell) sebesar Rp 1,39 triliun pada Kamis (26/10). Sehingga secara Year to Date (YTD) transaksi investor asing masih tercatat dengan total penjualan bersih (Net Sell) senilai Rp 11,06 triliun.


Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyampaikan bahwa APBN mengalami surplus sebesar Rp 67,7 triliun atau 0,32% dari produk domestik bruto (PDB) pada September 2023. Kemenkeu juga menyampaikan bahwa realisasi pendapatan negara mencapai Rp 2.035,6 triliun per September 2023, atau tumbuh 3,1% secara tahunan (year on year/yoy). Disisi lain, realisasi belanja negara mencapai Rp 1.967,9 triliun atau 64,3% dari pagu yang ditentukan. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2022 terjadi pertumbuhan 2,8%.


Wall Street ditutup masih kompak melemah pada perdagangan hari Kamis (26/10). Dimana indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) melemah sebesar -0,76% ke level 32,784. Indeks S&P 500 juga ikut tertekan -1,18% ke level 4,137 dan indeks Nasdaq Composite juga masih terkoreksi cukup dalam sebesar -1,76% ke level 12,595.


Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga tidak berubah pada Kamis (26/10) untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun. Ekonomi Eropa dibayangi perang Israel-Hamas menambah kesuraman atas prospek yang sudah suram. Ini adalah pertemuan pertama bank tersebut tanpa perubahan setelah laju kenaikan 10 kali berturut-turut sejak Juli 2022, mendorong suku bunga utama ke rekor tertinggi 4%.


Kinerja reksadana secara harian ditutup bervariasi. Seperti jenis reksadana saham yang mengalami pelemahan cukup banyak sebesar -1,68%, diikuti reksadana campuran yang ikut terkoreksi -0,97%, sementara itu reksadana pasar uang diapresiasi sebesar +0,01% dan terakhir reksadana pendapatan tetap yang lanjutkan penguatan sebesar +0,01%. 


Pergerakan dari kinerja Reksadana selama sepekan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu melemah cukup dalamnya IHSG pastinya turut menekan dari kinerja reksadana saham dan reksadana campuran. Disisi lain investor asing yang terus melakukan aksi net sell mengindikasikan bahwa dalam jangka waktu beberapa pekan kedepan pasar saham rawan untuk melanjutkan koreksi lanjutan. Sementara, yield UST 10Y yang sempat naik ke 4,996% pada dua hari yang lalu juga masih membayangi kinerja dari reksadana pendapatan tetap. Dengan kondisi market seperti ini, para investor diharapkan lebih wise lagi dalam menerapkan kebijakan investasinya dipasar modal.


#InvesNowCuanLater  #BigDreamStartNow

floating-whatsapp

Siap untuk menumbuhkan
uang di masa depan?

Perjalanan Investasimu Dimulai Sekarang

logo
ojk
ojk

Newsletter

Segarkan wawasan investasi Anda setiap harinya
dengan berita-berita financial dari newsletter kami.

© 2024 PT Invesnow Principal Optima