IHSG Dalam Tren Konsolidasi, The Fed Diekspektasi Menahan Suku Bunga

8 Nov 2023

Updates

IHSG Dalam Tren Konsolidasi, The Fed Diekspektasi Menahan Suku Bunga

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara harian mencatatkan pelemahan sebesar -0,51% dan ditutup di level 6,843 pada hari Selasa (07/11) setelah menguat selama tiga hari beruntun. Koreksinya IHSG ditekan oleh tiga sektor yang mengalami pelemahan terbesar, yakni sektor siklikal konsumen -1,73%, sektor energi -1,35%, sektor material dasar -0,94%. Saat ini IHSG masih ditradingkan kembali dengan valuasi menarik, Price Earning Ratio (PER) sebesar 13,14x serta Price Book Value (PBV) sebesar 1,81x. IHSG tercatat outflow, dimana foreign investor membukukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp 419 miliar. Sehingga secara Year to Date (YTD) transaksi investor asing masih tercatat dengan total penjualan bersih (Net Sell) senilai Rp 14,29 triliun. IHSG masih menunggu katalis positif, dimana pada tahun politik LPEM FEB UI, memperkirakan pemilu akan mendorong terjadinya injeksi likuiditas yang tinggi, dan salah satunya akan berdampak positif ke sektor konsumsi. Wall Street kembali masih lanjutkan trend Bullish pada perdagangan hari Selasa (07/11). Dimana indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) menguat sebesar +0,17% ke level 34,152. Indeks S&P 500 juga ikut rally +0,28% ke level 4,378 dan indeks Nasdaq Composite juga bertambah sebesar +0,90% ke level 13,639. Big-Cap saham teknologi masih berada di jalur penguatan, dengan 80% perusahaan di S&P 500 hasil earning estimate berhasil mengalahkan konsensus. Selanjutnya investor akan berfokus pada data wholesale investory. Pada FedWatch Tool, market memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga di level saat ini (5.25%) pada FOMC Meeting (13/12). Kinerja reksadana secara harian pada hari Rabu (08/11) cenderung melemah. Seperti jenis reksadana saham yang mengalami pelemahan sebesar -0,77%, diikuti reksadana campuran yang juga ikut terkoreksi -0,75%, sementara itu reksadana pasar uang diapresiasi sebesar +0,01% dan terakhir reksadana pendapatan tetap yang akhirnya terkoreksi sebesar -0,22%. Pergerakan dari kinerja selama sepekan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu dari faktor internal, yaitu tumbuhnya PDB yang sesuai dengan prakiraan pasar, stabilnya inflasi serta posisi cadangan devisa Indonesia yang masih bertumbuh membuat pasar saham memiliki harapan untuk tumbuh hinggak akhir bulan. Selain itu dari faktor eksternal, seperti pasar ketenagakerjaan AS yang menunjukkan sinyal perlambatan dimana Unemployment Rate naik dari prakiraan konsensus (menjadi 217.000) bisa membuat The Fed bersikap dingin dengan tidak menaikkan tingkat suku bunganya hingga akhir bulan membuat sentimen positif bagi pasar obligasi. #InvesNowCuanLater #BigDreamStartNow

floating-whatsapp

Siap untuk menumbuhkan
uang di masa depan?

Perjalanan Investasimu Dimulai Sekarang

logo
ojk
ojk

Newsletter

Segarkan wawasan investasi Anda setiap harinya
dengan berita-berita financial dari newsletter kami.

© 2024 PT Invesnow Principal Optima