Cadangan Devisa Solid, Ekspor China Tertekan

9 Jun 2023

Updates

Cadangan Devisa Solid, Ekspor China Tertekan

Secara harian Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak menguat sebesar +0,70% ke level 6,666. Penguatan IHSG didorong oleh tiga sektor yang mengalami penguatan terbesar, yaitu sektor teknologi sebesar +2,14%, sektor energi sebesar +1,16% serta sektor kesehatan sebesar 0,78%. Saat ini IHSG ditradingkan masih dengan valuasi relatif murah, yakni di PER 13,01x dengan nilai Market PBV 1,73x. Investor asing membukukan penjualan bersih (Net Sell) sebesar Rp 387 miliar pada perdagangan Kamis (08/06). Namun, secara YTD transaksi investor asing masih tercatat dengan total pembelian bersih senilai (Net Buy) Rp 20,66 triliun. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2023 tetap tinggi sebesar 139,3 miliar dolar AS, meskipun menurun dibandingkan dengan posisi pada akhir April 2023 sebesar 144,2 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Dengan posisi cadangan devisa yang kuat maka akan menopang nilai kurs Rupiah dan positifnya Rupiah akan menopang kinerja harga obligasi (RDPT).

Dari pasar global, Wall Street ditutup kompak menguat pada perdagangan Kamis (08/06) kemarin. Indeks Dow Jones Industrial Average menguat +0,50% ke 33833. Indeks S&P 500 juga menguat +0,62% di level 4293 dan Indeks Nasdaq Composite menguat +1,02% ke 13238. Wall Street menguat setelah mendapatkan kembali beberapa katalis positifnya karena recovery nya saham teknologi. Sementara volatilitas turun ke rekor terendah jelang rilis sejumlah data ekonomi dan kebijakan yang penting pada pekan depan. Disisi lain, China mencatatkan penurunan ekspor sebesar -7,5% YoY menjadi 283,5 miliar dolar AS pada Mei 2023 (vs. Apr 2023: +8,5% YoY). Penurunan ekspor tersebut disebabkan oleh lemahnya tingkat permintaan dari Amerika Serikat dan Eropa akibat tingkat inflasi dan suku bunga yang tinggi. Selama 5M23, China mencatatkan peningkatan ekspor sebesar +0,3% YoY menjadi 1,4 triliun dolar AS.

Bagaimana dengan view Reksadana?

Kinerja reksadana dihari kemarin secara rata-rata, seperti jenis reksadana saham yang mengalami penguatan sejalan dengan kenaikkan IHSG, yaitu sebesar +0,42%, diikuti reksadana campuran yang naik +0,31%, kemudian reksadana pasar uang bertambah +0,01%, dan terakhir reksadana pendapatan mengalami tekanan sebesar -0,07%. Bank Dunia dalam Laporan Prospek Ekonomi Global memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya akan mencapai 2,1% dan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 4,9% pada tahun ini. Dengan begitu, jenis reksadana yang bisa diperhatikan adalah dengan tingkat risiko yang terbatas karena efek dari ekonomi global, seperi reksadana pendapatan tetap yang memiliki tenor relatif pendek. Tujuannya agar bisa memitigasi risiko yang terjadi dari pelemahan ekonomi global, namun tetap bisa menawaran return yang atraktif.

floating-whatsapp

Siap untuk menumbuhkan
uang di masa depan?

Perjalanan Investasimu Dimulai Sekarang

logo
ojk
ojk

Newsletter

Segarkan wawasan investasi Anda setiap harinya
dengan berita-berita financial dari newsletter kami.

© 2024 PT Invesnow Principal Optima