Suku Bunga Bank Indonesia Ditahan, Outlook Saham Stabil

22 Sep 2023

Updates

Suku Bunga Bank Indonesia Ditahan, Outlook Saham Stabil

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara harian mencatatkan koreksi sebesar -0,29% dan ditutup ke level 6,991 pada hari Kamis (21/09). Pelemahan IHSG didorong oleh tiga sektor yang mengalami tekanan terbesar, yakni sektor energi -1,04%, lalu sektor teknologi -1,24% serta sektor finansial -0,56%. Saat ini IHSG ditradingkan kembali dengan valuasi menarik, Price Earning Ratio (PER) sebesar 13,93x dan Price to Book Value (PBV) sebesar 1,91x.


Investor asing membukukan penjualan bersih (Net Sell) sebesar Rp 144 miliar pada perdagangan dihari Kamis (21/09). Namun secara YTD transaksi investor asing masih tercatat dengan total penjualan bersih (Net Sell) senilai Rp 2,72 triliun.


Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20-21 September 2023 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,00%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%. Keputusan ini sebagai konsistensi kebijakan moneter untuk memastikan inflasi tetap rendah dan terkendali dalam kisaran sasaran 3,0±1% pada tahun 2023 dan 2,5±1% pada 2024.


Wall Street ditutup masih kompak melemah pada perdagangan dihari Kamis (21/09). Dimana indeks Dow Jones Industrial Average melemah sebesar -1,08% ke level 34,070. Indeks S&P 500 turun -1,64% ke level 4,330. Dan indeks Nasdaq Composite kehilangan -1,82% ke level 13,223.


Naiknya imbal hasil (yield) US Treasury serta The Fed mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga masih akan terjadi tahun ini membuat indeks Wall Street kompak tertekan. Selain itu, Indeks volatilitas CBOE, yang dikenal sebagai "pengukur ketakutan" Wall Street, mencapai level tertinggi hampir satu bulan terakhir ini, yang mencerminkan meningkatnya kecemasan investor pada pasar saham Amerika Serikat.


Kinerja reksadana secara harian ditutup mayoritas turun pada perdagangan hari Kamis (21/09), seperti jenis reksadana saham yang mengalami pelemahan sebesar -0,39%, diikuti reksadana campuran yang kehilangan -0,22%, sementara itu reksadana pasar uang menguat sebesar +0,01% dan terakhir reksadana pendapatan masih tertekan dizona merah sebesar -0,01%. 


Kinerja reksadana pada hari Kamis (21/09) dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: Aksi Net Sell yang dilakukan oleh investor asing serta tekanan pada pasar saham yang berasal dari sektor energi dan teknologi ikut menekan kinerja reksadana saham dan campuran. Selain itu, pidato The Fed yang masih bernada Hawkish dimana sampai akhir tahun tingkat suku bunga masih akan dinaikkan membuat imbal jhasil (yield) kembali menguat membuat kinerja reksadana pendapatan tetap masih berada dizona bearish. Sebenarnya kondisi pasar seperti saat ini sudah di prediksi oleh Research Team beberapa minggu yang lalu. Dan kejadian seperti ini dimana pasar finansial masih akan volatile hingga akhir pekan. 


#InvesNowCuanLater  #BigDreamStartNow

floating-whatsapp

Siap untuk menumbuhkan
uang di masa depan?

Perjalanan Investasimu Dimulai Sekarang

logo
ojk
ojk

Newsletter

Segarkan wawasan investasi Anda setiap harinya
dengan berita-berita financial dari newsletter kami.

© 2024 PT Invesnow Principal Optima