Suku Bunga AS Naik ? Tenang Indonesia Masih Kuat

17 Jun 2022

Updates

Suku Bunga AS Naik ? Tenang Indonesia Masih Kuat

Domestik


Pengumuman kenaikan suku bunga The Fed sangat berdampak bagi berbagai negara, apalagi negara berkembang termasuk Indonesia. Bank Indonesia menyatakan siap mengawal menjaga stabilitas pasar dalam menghadapi fenomena pengetatan kebijakan moneter ini. Menurut Ibu Menteri Keuangan kita, saat ini Indonesia masih kuat dengan adanya kenaikan harga komoditas sehingga target penerimaan negara meningkat dari Rp 420,01 triliun menjadi Rp 2.266,2 triliun. Pemerintah akan tetap memperhatikan dan fokus untuk menjaga daya beli masyarakat dan menjaga pemulihan ekonomi. Pemerintah akan mengurangi eksposur utang dengan menurunkan defisit APBN dibawah 3% pada tahun depan. 


Selain itu utang luar negeri Indonesia mengalami penurunan sehingga berdampak pada penurunan rasio utang terhadap PDB menjadi 32,5%. Reshuffle menteri Jokowi pun menjadi sentimen positif karena akan membantu polemik minyak goreng. 


Ditengah kenaikan suku bunga AS, IHSG menguat 0,62% ke level 7050,33 kemarin karena pasar sudah cukup antisipasti jelang FOMC kemarin. Selain itu banyak sentimen positif dalam negeri yang dapat menggerek pasar untuk naik.


Internasional


Dan pada akhirnya, The Fed ketok palu menaikan suku bunga 75 basis poin dan ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2022. Hal ini membuat pasar semakin khawatir. Tak hanya suku bunga AS yang naik, Bank Sentral Swiss juga menaikan suku bunga untuk pertama kali nya setelah 15 tahun. Begitu juga dengan Bank Of England yang diprediksi akan ikut menaikan suku bunga.


Harga energi yang terus melonjak, inflasi yang menjulang, kebijakan berbagai bank setral mengetatkan kebijakan moneter membuat yield kian naik dan melemahkan ekuitas. Membuat berbagai spekulasi tentang resesi dan kehancuran ekonomi dunia semakin jelas dan nyata. Obligasi kepemilikan asing dalam mata uang China, mengalami penurunan 2.9% dari bulan sebelumnya dan ini merupakan penurunan terbesar sejak 2017. Hal ini disebabkan tawaran AS lebih menarik dan yuan semakin melemah. Penjualan ritel AS pada Mei 2022 mengalami penurunan 0.3% akibatnya konsumen menahan pengeluaran ditengah inflasi yang terus meninggi.


Download selengkapnya Daily Update dan Kinerja Reksa Dana di sini

floating-whatsapp

Siap untuk menumbuhkan
uang di masa depan?

Perjalanan Investasimu Dimulai Sekarang

logo ojk

Newsletter

Segarkan wawasan investasi Anda setiap harinya
dengan berita-berita financial dari newsletter kami.

© 2022 PT Invesnow Principal Optima