Perhatian Pasar Fokus Pada Data Inflasi Amerika Serikat

13 Nov 2023

Updates

Perhatian Pasar Fokus Pada Data Inflasi Amerika Serikat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara mingguan mencatatkan penguatan sebesar +0,30% dan ditutup di level 6,809 pada hari Jumat (10/11). Menguatnya IHSG dikarenakan tiga sektor yang mengalami rally terbesar, yakni sektor infrastruktur +9,00%, sektor teknologi +2,46%, sektor transportasi +0,82%. Saat ini IHSG masih ditradingkan kembali dengan valuasi menarik, Price Earning Ratio (PER) sebesar 13,27x serta Price Book Value (PBV) sebesar 1,83x.


Walau IHSG mengalami penguatan secara mingguan, namun IHSG masih mencatatkan outflow, dimana foreign investor membukukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp 2,32 triliun. Sehingga secara Year to Date (YTD) transaksi investor asing masih tercatat dengan total penjualan bersih (Net Sell) senilai Rp 16,17 triliun.


Posisi nonresiden (investor asing) di pasar keuangan domestik tercatat jual neto Rp1,27 triliun (jual neto Rp1,59 triliun di pasar SBN, jual neto Rp1,35 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp1,66 triliun di SRBI). Selain itu, diakhir pekan kurs Rupiah berada pada level (bid) Rp15.670 per dolar AS. Sementara, Premi CDS Indonesia 5 tahun per (09/11) 2023 sebesar 83,78 bps relatif stabil dibandingkan per (03/11) sebesar 83,83 bps.


Wall Street ditutup kompak menguat pada perdagangan akhir pekan dihari Jumat (10/11). Dimana indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) menguat sebesar +1,15% ke level 34,283. Indeks S&P 500 bertambah +1,56% ke level 4,415 dan indeks Nasdaq Composite juga rally cukup besar +2,05% ke level 13,798.


Sentimen konsumen (Consumer Sentiment) University of Michigan untuk AS turun menjadi 60,4 pada November 2023, terendah dalam enam bulan, dibawah ekspektasi pasar. Selain itu pada pekan ini fokus pelaku pasar akan terpusat pada data tingkat inflasi Amerika Serikat, data penjualan ritel serta akan ada pidato dari pejabat The Fed. Selain itu China juga akan merilis data penjualan ritel dan angka produksi industri.


Kinerja reksadana secara mingguan bergerak cenderung melemah. Seperti jenis reksadana saham yang mengalami pelemahan sebesar -0,79%, diikuti reksadana campuran yang juga ikut turun -0,75%, sementara itu reksadana pasar uang diapresiasi sebesar +0,08% dan terakhir reksadana pendapatan tetap mencatatkan terkoreksi tipis sebesar -0,01%. 


Pergerakan dari kinerja selama sepekan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sisi domestik data pertumbuhan (PDB) Indonesia yang mencapai 4,97%, posisi cadangan devisa yang masih solid serta survei konsumen dan Indeks Penjualan Rill (IPR) yang bertumbuh dan positif. Sedangkan dari faktor global, credit rating Moody’s memangkas outlook utang Amerika Serikat menjadi negatif, consumer sentiment yang berada dilevel terendah sejak enam bulan bertutut serta neraca dagang AS yang masih dalam posisi defisit. Dengan kondisi market seperti ini yang terbilang cukup complicated, diharapkan investor lebih selektif dalam berinvestasi selama sepekan. Dengan dirilisnya data inflasi AS pada pekan ini, financial market akan lebih volatile. 


#InvesNowCuanLater  #BigDreamStartNow

floating-whatsapp

Siap untuk menumbuhkan
uang di masa depan?

Perjalanan Investasimu Dimulai Sekarang

logo
ojk
ojk

Newsletter

Segarkan wawasan investasi Anda setiap harinya
dengan berita-berita financial dari newsletter kami.

© 2024 PT Invesnow Principal Optima