Kurva Yield Obligasi Bearish, Wait and See untuk RDPT

24 Okt 2023

Updates

Kurva Yield Obligasi Bearish, Wait and See untuk RDPT

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara harian mencatatkan pelemahan sebesar -1,57% dan ditutup di level 6,741 pada hari Senin (23/10). Pelemahan IHSG didorong oleh tiga sektor yang mengalami tekanan terbesar, yakni sektor infrastruktur -3,27%, lalu sektor energi -2,63% serta sektor transportasi -2,16%. Saat ini IHSG ditradingkan kembali dengan valuasi menarik, Price Earning Ratio (PER) sebesar 13,33x.


Pelemahan IHSG juga disertai oleh investor asing yang membukukan penjualan bersih bersih (Net Sell) sebesar Rp 592 miliar pada Senin (23/10). Sehingga secara Year to Date (YTD) transaksi investor asing masih tercatat dengan total penjualan bersih (Net Sell) senilai Rp 9,08 triliun.


Pelemahan Rupiah telah membuat kinerja saham dan obligasi tertekan. Saat ini, dari laporan riset Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), bentuk kurva Yield Obligasi Negara berpola Bearish, dengan rata-rata tenor 1-30 tahun naik +16.24bps/wow. Untuk net ouflow sendiri, Bank tercatat jual SBN 23 triliun rupiah. 


Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan hari Senin (30/10). Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) melemah sebesar -0,58% ke level 32,936. Indeks S&P 500 juga ikut tertekan -0,17% ke level 4,217 dan indeks Nasdaq Composite menguat sebesar +0,27% ke level 13,018.


Masih tertekannya pasar saham Amerika Serikat disebabkan oleh naiknya imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun yang menyentuh angka penting 5%. Hal ini mirip dengan angka yang dicapai pada Juli 2007. Dimana obligasi dengan tenor lain seperti 2 tahun dan 30 tahun juga mengalami peningkatan imbal hasil. Ini menimbulkan spekulasi tentang kebijakan moneter yang mungkin lebih ketat. Selain itu, investor akan memantau indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) untuk September ini, sebagai salah satu tolok ukur pengambilan keputusan moneter.


Kinerja reksadana secara harian ditutup kembali cenderung melemah. Seperti jenis reksadana saham yang mengalami pelemahan sebesar -1,58%, diikuti reksadana campuran yang ikut terkoreksi -1,01%, sementara itu reksadana pasar uang terapresiasi sebesar +0,01% dan terakhir reksadana pendapatan tetap masih kembali tertekan dizona bearish sebesar di -0,12%. 


Pergerakan dari kinerja Reksadana selama sepekan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sentiment dari RDG-BI yang mana diluar ekspektasi pasar dan masih menjadi momok penekan pasar saham yang membuat pelaku pasar bersikap Risk-On. Sedangkan dari faktor global, dimana perang Hamas Palestina dan Israel yang memancing trend kenaikkan harga minyak dunia turut memancing kenaikkan inflasi global. Disisi lain dengan dirilisnya angka pertubumbuhan ekonomi China Q3 yang masih melambat juga menjadi faktor penekan kinerja pasar finansial. Harapan pasar terliaht di KSSK yang sedang mempersiapkan kebijakan khusus dalam sisi Moneter dan Fiskal yang diharapkan bisa menopang pergerakan kurs Rupiah.


#InvesNowCuanLater  #BigDreamStartNow

floating-whatsapp

Siap untuk menumbuhkan
uang di masa depan?

Perjalanan Investasimu Dimulai Sekarang

logo
ojk
ojk

Newsletter

Segarkan wawasan investasi Anda setiap harinya
dengan berita-berita financial dari newsletter kami.

© 2024 PT Invesnow Principal Optima