Kenaikan BI Rate dan Pelemahan Rupiah, Menekan Kinerja Reksadana

20 Okt 2023

Updates

Kenaikan BI Rate dan Pelemahan Rupiah, Menekan Kinerja Reksadana

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara harian pada (19/10) mencatat pelemahan cukup dalam sebesar 1.2%, dan berada di level 6,846. Beberapa sektor yang mendorong pelemahan IHSG, diantaranya yakni: sektor Transport, Property, dan Finance yang masing-masing turun 3%, 1.6% dan 1.5%. Investor asing secara harian membukukan jual bersih sebesar Rp 1 triliun.


Bank Indonesia (BI) akhirnya menaikkan suku bunga acuan, BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Oktober 2023. BI mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps). Sehingga, suku bunga acuan kini bergerak di level 6%. Kenaikan suku bunga acuan ini sehubungan dengan risiko-risiko global yang meningkat.


Kinerja bursa saham Amerika Serikat (AS), pada (19/10) secara umum melemah, Dow Jones turun 0.75% dan ditutup di level 33,414, S&P 500 kehilangan 0.85% ke level 4,278 dan Nasdaq melorot 0.96% ke level 13,186. 


Testimoni Ketua The Fed telah memberikan gambaran yang lebih kejelas ke market, Ketua Fed menambahkan bahwa kebijakan ketat memberikan tekanan pada aktivitas ekonomi dan inflasi. Namun, bukti tambahan mengenai pertumbuhan yang terus- menerus berada di atas tren, atau bahwa pengetatan pasar tenaga kerja tidak lagi berkurang, dapat menempatkan kemajuan inflasi lebih lanjut dalam risiko dan memerlukan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.


Rata-rata kinerja reksadana mengalami pelemahan, seperti reksadana saham, campuran dan pendapatan tetap, RDS mengalami tekanan sebesar 1.21% dalam satu hari secara rata-rata.


Nilai tukar Rupiah terus melemah dan saat ini sudah diatas 15.850/USD, hal ini memberikan tekanan lanjutan pada kinerja reksadana saham dan campuran, dimana setiap pelemahan Rupiah yang tajam akan di ikuti oleh penurunan IHSG. Rupiah tercatat mendarat di level 15,850, atau level terendahnya selama 2023, dan menuju level tertingginya sejak 2020 yang ketika itu sempat mencapai 16,340/USD.


Di sisi lain, pasar obligasi juga tertekan diakibatkan oleh melonjaknya UST-10yr yang telah mencapai 5% (level tertingginya sejak tahun 2007). Imbal hasil pada benchmark Treasury 10-tahun melewati 5% untuk pertama kalinya dalam 16 tahun. Imbal hasil 10 tahun mencapai 5,001% pertama kalinya diperdagangkan di atas level tersebut sejak 20 Juli 2007 ketika imbal hasil setinggi 5,029%.


Kesimpulan: Selama tekanan eksternal masih terjadi dan menekan variable makro seperti ID10yr dan Rupiah, maka kinerja reksadana saham, campuran dan pendapatan tetap masih akan tertekan.


#InvesNowCuanLater  #BigDreamStartNow

floating-whatsapp

Siap untuk menumbuhkan
uang di masa depan?

Perjalanan Investasimu Dimulai Sekarang

logo
ojk
ojk

Newsletter

Segarkan wawasan investasi Anda setiap harinya
dengan berita-berita financial dari newsletter kami.

© 2024 PT Invesnow Principal Optima